Saya kenal dengan seorang yang sangat mudahnya mengatakan ‘maaf’, namun kemudian kesalahan yang sama selalu di ulanginya.
Sebenarnya kesalahan-kesalahan itu datangnya dari hal yang sangat sepele. Suatu aktivitas keseharian yang sangat sepele, namun memilki dampak besar bagi orang lain.
Semisal, teman ku itu biasa membuat janji untuk mempertemukan aku dengan orang lain yang berkaitan dengan bisnis, namun sering kali ia lupa menayakan jam berapa akan ketemu, hari apa, dan detail lainnya.
Hal itu berpengaruh kepada diriku, karena setiap hari meski tidak secara tertulis aku sedah menata hariku. Mengorganisi aktivitasku, meski kemudian seringkali apa yang aku agendakan keluar dari agenda karena berbegai situasi, aku selalu mencoba untuk beradaptasi. Namun karana keteledoran kecil seperti itu, aku harus menata jadwalku.
Aku bukanlah orang yang senang mencatat agendaku di dalam kertas, bahkan dalam pekerjaanku aku melakukan rancang bagun di dalam otakku hampir jarang sekali akau membuat catatan di dalam kertas. Namun lain aku lain pula denganmu, kalau memang otak dalam kapasitas low memorry yang buatlah catatan untuk mengorganisir diri agar menajdi lebih baik.
Permasalah itu sebenarnya menurutku juga di alami semua orang, hanya ada yang mau menyadarinya atau tidak. Dan permasalahan terberatnya adalah pada ‘penganggapan’ sepele pada suatu aktivitas atau persoalan. Karena sesuatu yang sepele itu, yang kita anggap mudah alias ‘encer’ kita kemudian menggap enteng, encerlah. Dan kemudian kita menjadi lupa, kemudian alpa.
Maaf,
Adalah suatu kata yang dengan mudah di ucapkan. Namun apakah memperbaiki kesalahan adalah suatu yang mudah. Jikalau sesuatu yang mudah dan simple, alias encer saja kita sudah tidak dapat mengorganisir dengan baik, menyelesaikan dengan baik, menatanya dengan baik, mungkinkah kita akan dipercaya untuk menyelesaikan suatu yang besar ?
Jika kita tidak biasa mengorganisir diri, memanage diri, lantas kemudian bagaimana kita dapat memanage kehidupan ?. Kita akan bergantung terus kepada seseorang untuk selalu memberikan arahan, padahal mungkin saja orang itu sudah malas, karena selalu saja keteledoran yang sama selalu diperbuat.
Seorang bijak pernah bercerita : Sang Nabi harus turun dari ontanya ketika ada orang yang bertanya berapa jumlah kaki ontanya.
Apakah hal itu menandakan bahwa sang Nabi tidak dapat menghapal jumlah kaki onta ?, bukan!, sang nabi mengajarkan ketelitian, cros cek. Memperhaikan detail adalah sebuah kunci, dan yang detail itu selalu bersifat sesuatu yang sepele dan simple.
Daya Kreatifitas akan terpicu jikalau kita mau memperhatikan yang simple itu, karena yang simple itu selalu luput dari perhatian orang, dan jika kita mengolahnya bisa jadi besok hal yang sepele itu menjadi besar.
Ingat teori gravitasi ?, penemunya cuma memperhatikan kenapa apa yang jatuh dari atas selalu kebawah, buka ke samping atau kembali ke atas ?, ada hukum apa ?
Mereka yang bloon seperti aku ini akan mengatakan lah emang udah dari sononya . . . . .

0 ResponsesLeave a comment ?